Rencana perpindahan ibukota terus menjadi perhatian para pemerhati, termasuk para penikmat Kopi Daeng yang tergabung dalam Forum Diskusi Peduli Generasi. ini sudah merupakan pertemuan yang ke empat, jika sebelum-sebelumnya banyak membahas optimisme eforia pemindahan ibukota maka di ujung diskusi kali ini, ada sedikit yang berbeda, justru mewaspadai dampak negatif yang mungkin terjadi dalam 15 tahun ke depan.

sedikit beraroma pesimistis, namun tetap dikawal akal sehat dan iman tawakkal, karena mau tidak mau, hal inipun harus dibicarakan. Daripada terlambat disadari, kemudian berubah jadi kepanikan, dan kemarahan yang tidak rasional.

Diantara kekhawatiran tersebut adalah: Jika Balikpapan tidak segera menaikkan bargaining positionnya, maka Balikpapan hanya akan padat dengan aktivitas bisnis dalam 5-8 tahun kedepan, namun setelah ibukota berfungsi aktif maka Balikpapan bakal menjadi Cengkarengnya ibukota baru.

Menjadi kota yang hanya dilewati saja, karena orang akan menuju pusat bisnis di ibukota, bukan lagi menuju Balikpapan seperti sekarang ini.

Memang pengusaha hari ini akan merasakan dampak positifnya, karena aktivitas lobby bisnis akan banyak dilakukan di Balikpapan.

Tapi itu tak akan lama ketika pembangunan di mulai, Balikpapan akan kebanjiran pendatangyg menjadi tenaga kerja dan pengusaha untuk pembangunan ibukota, dengan segala persoalan moral dan sosialnya. Ketersediaan supply SDA Balikpapan terguncang.

Dan setelah ibukota negara berfungsi, Balikpapan akan ditinggalkan orang, menyisakan residu moral dan ekonomi dari aktivitas manusia yang pernah membanjiri kota Balikpapan. Kota yang maju pesat akan melambat, karena prioritas pembangunan memang bukan di kawasan Balikpapan.

Benar kata bung Edwin, generasi 5- 20 tahun hari ini yg akan menerima akibatnya, di masa pembangunan ibukota, di tengah banjir bandang kesibukan generasi ini (kebanyakan) sedang sibuk bermain, ketika Ibukota dibuka, mereka terperangah, tidak siap.

Pesimisme ini bukan untuk memicu kemarahan tapi harus menggugah kecerdasan untuk menghadapinya.

Tentu saja Pemerintah Kota Balikpapan yg harus mengantisipasinya dengan berbagai strategi pembangunan kota yg upgraded.

Lembaga pendidikan harus menyadari ini, memotivasi generasi untuk bisa berenang di arus deras pembangunan yg akan *melewati* Balikpapan, penguatan iman dan moral sangat penting, agar segala hasad, iri, dengki hilang dari hati, berganti semangat positif untuk menghadapi segala perubahan ke depan.

Radio, koran dan media sosial  harus menyuarakan kesadaran ini.

Namun semua tidak akan optimal,  jika pemerintah kota tidak melakukan perubahan strategi pembangunan kotanya.

Kembali pada political will.

tanggal 10 September 2019 Yosepha Pusparisa di katadata.co.id menyebutkan bahwa Pemerintah tidak hanya membangun ibukota, juga 10 kota metropolitan baru.

sayangnya Balikpapan tidak ada di dalam daftar itu…

Forest Watch Indonesia juga memposting ilustrasi peta rencana pembangunan Ibukota baru pun Balikpapan tidak termasuk di dalamnya.

Balikpapan hanya di pinggiran ibukota, tidak termasuk di dalamnya..

pertanyaannya, apakah Balikpapan akan terpinggirkan, atau menjadi gerbang ibukota dalam arti yang positif berkemajuan? atau memang benar-benar gerbang, dalam arti sekedar pintu untuk dilewati saja?

Para pemangku kebijakan, agamawan,   cendikiawan, akademisi, budayawan, mesti peduli hal ini, agar generasi mendatang menyambut perubahan ini dengan segala kesiapan dan sukacita, mampu berenang di arus deras pembangunan, tidak tenggelam di dasarnya.

wallohu’alam bish showab

referensi

– hasil diskusi ke 4 FDPG

– https://katadata.co.id/infografik/2019/09/10/tak-hanya-ibu-kota-pemerintah-siapkan-10-kota-metropolitan-baru

– http://fwi.or.id/publikasi/pemerintah-umumkan-ibu-kota-baru-tergesa-gesa-dan-tertutup/