إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi”. (QS Fatir 29).

Dari Mu’adz bin Jabal r.a. berkata, Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak berlebihan (dalam menaikkan harga), apabila menagih utang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan”. (HR Al-Baihaqi).

Prinsip Berbisnis menurut hadits ini :

1. Islam menganjurkan agar umatnya bekerja dan berbisnis dengan jalan yang benar dan menjauhi yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, sebab akan mendatangkan bencana dan mudarat.

2. Berbisnis adalah profesi yang sangat mulia bila dilaksanakan dengan jujur dan tidak melanggar syariat yang ditetapkan Allah swt.
3. Seorang pebisnis membekali dirinya dengan bekal keimanan, khususnya fiqih muamalah dan akhlakul karimah.

4. Profit dari bisnisnya akan mengandung baroqah dan manfaat yang banyak bila diperoleh dengan jalan yang baik dan benar serta dikeluarkan zakatnya bila telah mencapai nisab.

Fiqih Muamalah dalam bisnis :

1. Akad jual beli (transaksi)
Transaksi jual beli menurut syariah islam yakni adanya salah satu prinsip agama, yakni:

Pertama, shigat atau lafadh yang diucapkan ketika terjadi transaksi.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian makan harta-harta sesama kalian dengan bathil, kecuali atas jalan perdagangan dengan ridla (suka sama suka) di antara kalian”. (QS An-Nisa 29).

Kedua, perbuatan (af’al) yakni adanya aktivitas yang kongkrit terjadinya transaksi jual beli, seperti serah terima barang dagangan ( mu’athah ), waqaf, sewa menyewa dsb.

Ketiga, cara lain selain lafadh dan af’al yang menunjukkan kepada maksudnya yang dimengerti oleh kedua belah pihak bahwa itu kegiatan jual beli atau sewa menyewa dsb.
البيع عن تراض إنما

“Hanyasanya jual beli itu saling merelakan (suka sama suka)” (HR Ibnu Hibban)

2. Administrasi bisnis
Islam memerintahkan adanya ketatalaksanaan bisnis yang baik guna mewujudkan kelancaran dan keserasian dalam hubungan-hubungan dagang.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian mengadakan suatu perikatan (bermu’amalah) tidak secara tunai untuk jangka waktu tertentu, maka hendaklah kalian menuliskannya”. QS Al-Baqarah 282.

3. Aqid (pelaku bisnis)
Aqid merupakan salah satu rukun jual beli, tanpa adanya aqid tidak sah jual beli itu. Menurut fuqaha syarat-syarat seorang aqid adalah : aqil (berakal), mumayyiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk) dan mukhtar yaitu bebas atau kuasa memilih.

4. Komoditi bisnis
Menurut syara’ barang komoditi harus memenuhi persyaratan, yakni :
Suci bendanya artinya tidak bernajis, bermanfaat, dapat diserah terimakan, ada dalam kekuasaan penjual dan jelas zatnya, ukurannya dan sifatnya.

Akhlakul karimah, karakter Nabi dalam berbisnis

1. Bersikap sopan dan baik hati
Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda :”Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati ketika menjual dan membeli dan ketika dia membuat keputusan “. (HR Bukhari).

2. Menghindari sikap berlebihan, seperti : bersumpah.
Nasihat Rasulullah saw : “Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi dagang, sebab itu dapat menghasilkan penjualan yang cepat, lalu menghapuskan berkah”.
Nabi saw sangat membenci orang-orang yang dalam dagangnya menggunakan sumpah palsu. Nabi bersabda : “Pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan berbicara, melihatpun tidak kepada orang yang semasa hidup berdagang dengan menggunakan sumpah palsu”

3. Melaksanakan prinsip customer satisfaction dan service ex- cellence, kepuasan pelanggan dan pelayanan yang unggul.

4. Tidak mengambil margin keuntungan yang sangat tinggi tetapi mengambil margin keuntungan secukupnya.

5. Mengandung asas “facta sur servanda” sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian yakni atas dasar kesepakatan atau saling setuju.