Hikmah Perubahan Urutan Kata

Ada dua kata yang biasa kita ucapkan seakan tanpa sadar. Contohnya: siang malam. Di Depok ada Rumah Makan Siang Malam. Di Jakarta Timur ada Siang Malam Restaurant dan juga Warkop Siang Malam.

“Di sini siang malam hujan terus.” Artinya, hujan tidak berhenti turun. Baik di siang hari maupun di malam hari. Alam bawah sadar kita spontan membuat urutan itu. Siang dulu baru malam. Alam bawah sadar kita tidak bilang, “Di sini malam siang hujan terus.” Alam bawah sadar kita tidak membalik urutan itu. Padahal sebenarnya artinya sama saja.

Bahasa Inggris juga begitu. Seseorang bekerja keras sampai lupa waktu. Maka dikatakan, “He is working day and night.” Urutan katanya seperti itu. Bukan, “He is working night and day.

Masih banyak contoh yang lain.

Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara. Bukan kanan kiri.
Jauh dekat tiga ribu lima ratus rupiah. Bukan dekat jauh.
Aku mencintainya sepenuh jiwa raga. Bukan raga jiwa.
Boys and girls have to work together as a team. Bukan girls and boys.

Setiap kita bicara, selalu ada dua bagian itu. Pertama, ucapan yang kita sadari. Kedua, ucapan yang berasal dari alam bawah sadar kita.

Yang tidak selalu bisa kita kendalikan adalah ucapan yang kedua. Ucapan yang berasal dari alam bawah sadar. Karena kita sudah terbiasa mengatakannya seperti itu. Seperti saat kita mengucapkan siang malam.

Bahkan di Jakarta ada nama jalan yang mengkonfirmasikan urutan itu. Jalan TB Simatupang. Yang kepanjangannya sudah kita kenal. Siang malam tunggu panggilan. Urutannya masih sama. Siang dulu, baru malam.

Begitulah manusia. Kita biasanya sudah punya urutan kata tertentu untuk mengungkapkan sesuatu.

Di Alquran, Allah sering mengubah urutan kata. Allah tidak selalu menyebutkan, “Wallaahu bimaa ta’maluuna khobiir.” Allah juga menyebutkan, “Wallaahu khobiirun bimaa ta’maluun.

Allah mengubah urutan kata. Tidak hanya sekali dua kali. Tapi berkali-kali. Di berbagai kesempatan di Alquran.

Kadang-kadang Allah mengubah urutan kata begitu cepat. Yang secara sadar, manusia tidak akan mampu melakukannya.

Contohnya ada di Surah Al-Mulk 67: 29. “Qul huwarrohmaanu aamannaa bihi wa ‘alayhi tawakkalnaa.” Kami beriman kepada-Nya. Dan kepada-Nya kami bertawakal.

Urutannya aneh.

Urutan yang normal harusnya: kami beriman kepada-Nya, dan kami bertawakal kepada-Nya. Harusnya begitu. Iya, harusnya, menurut manusia.

Pernyataan yang pertama masih terbilang normal. Kami beriman kepada-Nya. Pernyataan kedua seperti tidak normal. Kepada-Nya kami bertawakal. Menurut kita.

Terjadi pertukaran kata secara tiba-tiba (immediate switch) dalam satu kalimat. Perubahan urutan itu ada maksudnya.

Saat mengkaji Al-Fatihah, kita sudah belajar tentang urutan yang normal (normal order) vs. urutan yang tak biasa (strange order). At-taqdim wat-ta’khir.

Dalam urutan yang tak biasa (unusual order) terjadi penambahan kata ‘hanya’.

Kata ‘alhamdulillah’ adalah urutan yang biasa. Artinya: segala puji dan terima kasih untuk Allah.

Kata ‘lillah alhamd’ atau ‘lillahil-hamd’ adalah urutan yang tak biasa. Artinya: ‘hanya’ untuk Allah segala puji dan terima kasih.

Itu di Al-Fatihah.

Kembali ke Al-Mulk 67:29.

Kata ‘aamannaa bihi’ adalah urutan yang biasa. Artinya: kami beriman kepada Allah.

Kata ‘wa’alayhi tawakkalnaa’ adalah urutan yang tak biasa. Artinya: ‘hanya’ kepada Allah kami bertawakal.

Muncul kata ‘hanya’. Karena urutan yang tak biasa.

Luar biasa! Tidak masuk akal! (Incredible!)

Kenapa?

Karena kita beriman kepada Allah tapi kita tidak hanya beriman kepada Allah.

Kita juga beriman kepada para nabi.
Kita juga beriman kepada para malaikat.
Kita juga beriman kepada hari akhir.
Kita juga beriman kepada kitab-kitab suci.
Kita juga beriman kepada jannah.
Kita juga beriman kepada jahannam.

Kata ‘aamannaa bihi’ tidak bisa kita tukar urutannya. Karena akan muncul kata ‘hanya’. Padahal kita beriman kepada Allah, dan juga kepada banyak hal lain yang kita imani.

Kata ‘wa’alayhi tawakkalnaa’ memang urutan yang tak biasa. Tapi urutannya memang harus seperti itu. ‘Hanya’ kepada Allah kami bertawakal.

Apakah kita bertawakal kepada malaikat-malaikat-Nya?
Apakah kita bertawakal kepada ciptaan Allah?
Tidak.
Jadi sudah betul.
Hanya kepada Allah kita bertawakal.
Tawakal itu bersifat khusus. Hanya antara diri kita dan Allah.

Luar biasa! Tidak masuk akal! (Incredible!)

Kenapa?

Karena Allah melakukan pertukaran kata itu begitu cepat. Terjadi dalam sepersekian detik (in a split second).

Saat kita menulis, kita punya waktu untuk berpikir. Bahkan dibutuhkan beberapa menit untuk menuliskannya. Atau untuk menjelaskan apa yang baru saja dipaparkan.

Luar biasa! Tidak masuk akal! (Incredible!)

Kenapa?

Karena terjadinya begitu cepat. Dan begitu akurat!

Saat kita berbicara, kita melakukan banyak kesalahan. Itu tak terhindarkan (inevitable).

Ada begitu banyak kesalahan tata bahasa (grammatical mistakes). Ada begitu banyak kesalahan pengucapan (mispronounce). Ada begitu banyak kesalahan bicara (misspeak).

Saat kita menulis, ada proses editorial yang memakan waktu. Seperti saat seorang mahasiswa membuat tesis. Dia bikin dulu draf pertama. Versi satu. Dosen pembimbingnya memeriksa. Mahasiswa melanjutkan revisinya. Hingga lahir draf kedua.

Proses editorial juga melibatkan pemeriksaan ejaan (spell checking) yang tak kalah memakan waktunya.

Alquran tidak diturunkan kepada manusia dalam bentuk sebuah buku. Alquran diberikan kepada manusia dalam bentuk kata-kata yang terucapkan (in the form of speech).

Masalahnya, ucapan atau kata-kata itu, begitu meluncur atau sudah diucapkan, tidak bisa ditarik lagi. Tidak bisa diedit lagi.

Alquran diucapkan cuma sekali. Tapi itu bukan draf pertama. Itu sudah versi terakhir (final version). Dan versi itu tetap bertahan sampai sekarang. Tidak pernah ada revisi.

Draf pertama. Tapi versi yang sempurna. Sudah pasti bukan buatan manusia.

I’m watching 07. Sequencing in the Quran – Divine Speech http://bit.ly/2nFnr1l

Resume oleh Heru Wibowo

Sumber :

https://nakindonesia.wordpress.com/2019/06/27/hikmah-perubahan-urutan-kata/