Salah satu yang sangat kurang dipahami dan dihayati para aktifis muslim adalah bahwa dakwah harus menjadi warna dominan dalam (klaim) gerakan kemerdekaan Islam yang mereka usung.

Jika bicara soal (apa yang mereka klaim sebagai) gerakan kemerdekaan Islam, yang menonjol terlihat baik oleh kawan atau lawan biasanya nuansa perlawanan fisik atau jihad bersenjata. Mereka umumnya terlalu tercelup dengan paradigma bahwa cara yang paling mujarab untuk memerdekakan Islam adalah jalan senjata alias jihad. Jalan paling pintas untuk memerdekakan Islam adalah jihad. Dakwah? Terlalu lama.

Begitulah umumnya persepsi yang ada di benak aktifis yang kadung terobsesi jihad, akhirnya terseret pada aksi kejahatan terhadap kemanusiaan berupa tindakan terorisme yang merusak dakwah Islam.

Bahwa ummat Islam bisa lebih ditakuti oleh musuh-musuhnya, memang dijelaskan dalam Quran, itu karena supremasi pemahaman (the power of fiqh) bukan karena tindakan brutal.

لَأَنتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِم مِّنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُونَ

Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS.59:13)

Padahal jika kita membaca sirah nabawiyah (sejarah perjuangan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), kesan yang lebih kuat muncul dari sosok Rasulullah dan sepak terjangnya dalam menegakkan Islam adalah pendekatan dakwah.

Jihad yang dilakukan Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  terkesan hanya sebagai jalan darurat dan terakhir jika pendekatan dakwah buntu. Atau sebagai alat untuk menyingkirkan hambatan dakwah yang membandel.

Dakwah Menjiwai Jihad, bukan Jihad Menjiwai Dakwah

Obsesi Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  dalam memberi hidayah dan mengajak masyarakat untuk masuk Islam menjadi karakter yang melekat, termasuk saat melakukan jihad fi sabilillah.

Titik awal perjuangan Nabi  adalah dakwah. Obsesi Nabi adalah bagaimana menemukan cara yang paling sedikit menimbulkan korban tapi paling efektif dalam menyebarkan hidayah kepada umat manusia.

Jihad termasuk dalam paradigma ini. Meminimalisir korban, baik dari pihak muslimin maupun dari pihak musuh menjadi pertimbangan kuat.

Contoh kasusnya berikut ini:

وانسحب خالد بن الوليد بالجيش في معركة مؤتة، خشية عليه من الهلاك، إذ كان عدد جيش العدو مئتي ألف، وعدد المسلمين ثلاثة آلاف، ولما دخل المدينة حثى الناس التراب في وجه الجيش قائلين: يا فُرار، فررتم في سبيل الله ؟!، فقال النبي صلى الله علي وسلم: (ليسوا بالفُرَّار، ولكنهم الكُرَّار إن شاء الله تعالى). الروض الأنف 7/19

Khalid bin Walid menarik pasukannya dari medan jihad pada pertempuran Mu’tah, karena khawatir akan dibinasakan musuh. Jumlah pasukan musuh 200.000 orang, sementara jumlah pasukan mujahidin hanya 3.000 orang.

Tatkala pulang ke Madinah, penduduk Madinah menyambutnya dengan taburan pasir di wajah pasukan, seraya mencibir: Wahai pasukan yang lari dari pertempuran, kalian lari dari jalan Allah !

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendengarkan cibiran mereka, bersabda:

Mereka bukan furror tapi kurror

Mereka bukan pasukan yang lari kabur karena pengecut lari dari medan tempur, akan tapi mereka menarik diri karena strategi. in-sya Allah. (ar-raudh al-anif 7/19)

Khalid bin Walid ra memahami dan menghayati benar paradigma “obsesi untuk memberi hidayah sebanyak mungkin manusia” dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dalam kalkulasinya, ditariknya 3.000 prajurit muslim karena khawatir binasa oleh musuh yang lebih besar, masuk dalam bingkai paradigma ini.

Jihad melawan pasukan kafir tujuan besarnya adalah menyebarkan hidayah kepada manusia. Maknanya, dengan asumsi tewasnya 3.000 orang yang telah mendapat hidayah karena memaksakan diri melawan musuh yang jumlahnya terlalu besar, adalah bagian dari menjaga 3.000 orang ini untuk bisa memainkan fungsi sebagai agen hidayah.

Kematian mereka bermakna matinya 3.000 dai yang akan menerangi manusia dengan kebenaran Islam yang mereka pahami. Sementara musuh malah makin bangga karena berhasil membabat habis pasukan Islam, dan akan makin besar arogansinya untuk menerima hidayah.

Jika jihad melawan musuh yang jumlahnya tidak rasional, hasil dakwah yang berjumlah 3.000 orang akan habis, sedangkan musuh tak berhasil dikalahkan dan tetap tak tersentuh hidayah.

Jihad bukan untuk memuaskan adrenalin perang dan sekedar pamer kepahlawanan yang tak gentar menghadapi musuh yang jumlahnya tak rasional sekalipun.

Tapi jihad adalah subordinat dakwah, ia tunduk pada paradigma besar dakwah: menyebarkan hidayah kepada sebanyak mungkin penduduk bumi.

Jika jihad merugikan dakwah, maka jihad harus dihentikan atau ditinjau ulang.

Dalam kasus ini, memaksakan diri melanjutkan jihad dikhawatirkan akan menghilangkan 3.000 orang hasil dakwah, sementara hasil jihad bagi musuh justru melahirkan kebanggaan karena berhasil membantai 3.000 prajurit Islam.

Dengan kata lain, hasil jihad berupa “mengalahkan musuh” atau minimal “menimpakan kerugian maksimal kepada musuh”  tidak tercapai, tapi hasil dakwah berupa Islamnya 3.000 orang (pasukan Islam) justru akan binasa.

Dalam pandangan “sang Jenderal Khalid bin Walid” sebagaimana aset perjuangan yang lainnya, seperti tombak atau panah. Dimana satu anak panah pun sangat berharga, tak dibenarkan untuk dibuang-buang tanpa asumsi hasil yang memadai atau manfaat yang dicapai atau tujuan yang hendak digapai. Seorang prajurit Islam  jauh lebih mahal nilainya dibanding satu anak panah atau sebatang tombak.

Maka keputusan Khalid didukung oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, dan ini tidak dipandang sebagai sisi kelemahan bagi seorang komandan perang kawakan semacam Khalid bin Walid radhiyallohu ‘anhu.

Kisah ini juga memberi pelajaran lain, bahwa prajurit muslim adalah aset SDM yang mahal harganya. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menghasilkan SDM tangguh hingga mencapai jumlah 3.000 orang. Maka tak boleh dibiarkan binasa tanpa ada kalkulasi hasil yang memadai, apakah hasil dakwah atau jihad.

Perang Khaibar Dilandasi Misi Dakwah

عن سهل  ابن سعد رضي الله عنه قال، قال النبي صلى الله عليه وسلم يوم خيبر: لأعطين الراية غدا رجلا يفتح على يديه يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله ،  فبات الناس ليلتهم أيهم يعطى فغدوا كلهم يرجوه ، فقال: أين علي؟ فقيل يشتكي عينيه، فبصق في عينيه ودعا له فبرأ كأن لم يكن به وجع، فأعطاه فقال: أقاتلهم حتى يكونوا مثلنا؟ فقال: انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب عليهم فوالله لأن يهدي الله بك رجلا خير لك من أن يكون لك حمر النعم

Dari Sahal bin Saad ra, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda pada perang Khaibar:

Besok aku akan serahkan panji perang kepada seorang laki-laki yang Allah akan memberi kemenangan melalui tangannya, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya juga mencintainya.

Pada malam harinya, seluruh pasukan kasak-kusuk menebak siapa yang akan beruntung dan masing-masing berharap dirinya yang akan terpilih.

Esoknya, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bertanya: Mana Ali?

Ada yang menjawab: Dia sedang sakit mata ya Rasulullah.

Lalu Rasulullah  meludahi kedua matanya dan mendoakannya, setelah itu matanya langsung sembuh seperti tak ada bekas sakit.

Kemudian Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyerahkan panji perang kepadanya.

Ali bin Abi Thalib ra bertanya:

Apakah aku diperintahkan untuk memerangi mereka agar menjadi seperti kita semua?

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab:

Berangkatlah dengan senyap, hingga engkau mencapai tanah pekarangan mereka. Sampaikan dakwah (ajakan) kepada mereka untuk masuk Islam, dan ajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban mereka.

Demi Allah, engkau dapat memberi petunjuk satu orang dengan ijin Allah lebih baik dibanding engkau mendapat hadiah onta terbaik.

(Shahih Bukhari no hadits 2847)

Khaibar adalah wilayah yang dikuasai Yahudi, dengan benteng yang terkenal kokoh. Yahudi dikenal keras kepala dan memiliki sifat dengki yang dalam.

Meski demikian, briefing sebelum memberangkatkan pasukan untuk menyerang Khaibar tetap dibingkai misi dakwah. Maknanya, obyek jihad dari ideologi apapun tetap harus menjadikan misi dakwah lebih ditonjolkan.

Misi dakwah dalam perang Khaibar: Masuk Islamnya satu orang Yahudi, lebih berharga dari harta termahal saat itu, onta merah.

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  hendak memberi barometer, bahwa keberhasilan seorang mujahid dalam mengislamkan musuhnya lebih membanggakan dibanding keberhasilan membunuhnya atau merebut ghanimah darinya.

Barometer ini meresap menjadi sikap mental para Sahabat saat melaksanakan misi jihad. Dan semestinya menjiwai para aktifis yang terobsesi dengan jihad saat ini. Jihad yang dijiwai dakwah akan  membuat jihad makin barokah.

Jiwa Dakwah Menjadikan Jihad tetap Fi Sabilillah

Jiwa dakwah yang meresap di hati seorang mujahid, akan bermanfaat untuk mengawal liku-liku jihad yang ia tempuh untuk tetap di jalan Allah. Jiwa dakwah akan membantu menepis rasa dendam, curiga dan ketergesaan.

Seorang pejuang akan menjadi sangat dewasa dan bijaksana dalam menyikapi kenakalan, kecurangan dan kejahatan musuh-musuhnya.

Ketika jihad kehilangan rasa dakwah, maka jihad hanya akan menampilkan potret pertumpahan darah dan pelampiasan dendam yang mengerikan.

Sentuhan dakwah menjadikan jihad tetap terkawal dalam puncak ketinggian akhlaq seorang muslim, dan puncak misi suci: mengentaskan manusia dari gelapnya jahiliyah untuk dibimbing menemukan cahaya Islam.

عن المقداد بن الأسود رضي الله عنه أنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: أرأيت إن لقيت رجلاً من الكفار، فاقتتلنا، فضرب إحدى يدي بالسيف، فقطعها، ثم لاذ مني بشجرة، فقال: أسلمت لله. أقتله يا رسول الله بعد أن قالها؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:” لا تقتله “. فقال: يا رسول الله إنه قطع إحدى يدي ثم قال ذلك بعد ما قطعها؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:” لا تقتله فإن قتلته فإنه بمنزلتك قبل أن تقتله وإنك بمنزلته قبل أن يقول كلمته التي قال ” …. متفقٌ عليه.

Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu  bertanya kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

Bagaimana pendapat Anda wahai Rasulullah, jika aku bertemu seorang prajurit kafir, kami terlibat adu senjata, ia mampu menebas salah satu tanganku dengan pedangnya hingga putus, lalu ingin aku balas dan ia berlindung di balik pohon tapi tiba-tiba mengucapkan; aku masuk Islam karena Allah.

Apakah boleh aku membunuhnya wahai Rasulullah sesudah ia mengucapkan pernyataan masuk Islam itu?

Rasulullahصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

Jangan engkau bunuh dia.

Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi:

Tapi wahai Rasulullah, dia telah menebas tanganku hingga putus lalu mengucapkan pernyataan masuk Islam setelah menebasku?

Rasulullahصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  menjawab: Jangan engkau bunuh ia, sebab jika engkau membunuhnya, ia akan menempati posisi engkau sebelum engkau membunuhnya, sedangkan engkau akan menempati posisi dia sebelum mengucapkan pernyataan masuk Islam. (Muttafaq Alaih).

Bayangkan, seorang mujahid yang terlibat saling serang dengan musuh, lalu putus salah satu tangannya akibat tebasan pedang musuh, lalu musuh menyatakan masuk Islam. Situasi ini amat rawan melahirkan dendam.

Tapi jiwa mujahid yang dikendalikan oleh mental dakwah, akan segera sadar, bahwa misi jihad yang dia emban adalah mengajak manusia kepada Islam.

Memang menyakitkan jika dilihat dari kaca mata jihad. Musuh menyakiti mujahid, lalu tiba-tiba sang mujahid kehilangan momentum membalas karena secara tiba-tiba musuh berobah posisi menjadi saudara seiman.

Subhanallah, berat nian tantangan bagi seorang mujahid untuk punya kedewasaan dakwah tingkat tinggi: dalam sekejap dendam untuk membalasnya harus dirobah menjadi ucapan “alhamdulillah dia sudah masuk Islam”.

Bagi seorang mujahid yang hanya punya naluri membunuh tapi tak punya naluri dakwah, kemungkinan besar akan gagal melakukannya.

Jangankan pejuang Islam jaman sekarang, seorang sahabat mulia, Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, yang sangat dekat dengan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, gagal menghayati jiwa dakwah saat ia berjihad.

Simak riwayat berikut:

بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ قَالَ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ قَالَ وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ قَالَ فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَكَفَّ عَنْهُ الْأَنْصَارِيُّ فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَالَ لِي يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا قَالَ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,

“Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Bani Huraqah, bagian dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami mengalahkan mereka. Saya dan seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba ia mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ (Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya. Adapun saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”

Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Maka beliau bertanya kepadaku,

‘Wahai Usamah, apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?’

Saya (Usamah) menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya.”

Namun beliau tetap bertanya, “Apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?”

Saya (Usamah) berkata, “Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  masih terus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.”

Dalam riwayat Muslim, Rasulullah  bertanya kepada Usamah bin Zaid:

أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ

“Apakah ia sudah mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah, namun engkau tetap saja membunuhnya?”

Maka Usamah bin Zaid menjawab:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنْ السِّلَاحِ

“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya karena takut kepada senjata kami.”

Namun Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  bersabda:

أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا

Kenapa engkau tidak membelah dadanya, sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah karena ikhlash ataukah karena alasan lainnya?”

(Kalimat di atas merupakan sanggahan sekaligus sindiran keras, bukan berarti benar benar menyuruh membelah dada)

Usamah berkata:

فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ

Beliau terus-menerus mengulang pertanyaan itu kepada saya (saking tidak setujunya) sehingga saya berharap andai saja saya baru masuk Islam pada hari itu.”

(HR. Bukhari: Kitab ad-diyat no. 6872 dan Muslim: Kitab al-iman no. 96)

Seorang sahabat gagal menghayati misi dakwah dalam jihadnya. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu kehilangan pertimbangan dakwah karena dorongan pembelaan terhadap mujahid lain, dan kecurigaan tipu muslihat dari musuh.

Dalam kasus ini, sesuatu yang yakin telah terjadi, yaitu pernyataan masuk Islam. Sedangkan kecurigaan tipu muslihat hanya asumsi atau dugaan. Dan keinginan membalas kematian mujahid lain tak lagi punya pijakan hukum, karena si musyrik telah masuk Islam.

Oleh karenanya, dalam ilmu figh dikenal kaidah: alyaqinu la yazulu bis-syakk (sesuatu yang meyakinkan, tak bisa dikalahkan oleh dugaan, asumsi ataupun keraguan).

Kepuasan Membalas Kezaliman Kalah oleh Misi Dakwah

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  dakwah di Makkah selama 13 tahun. Dalam rentang masa itu, banyak hambatan, penentangan, cibiran, intimidasi bahkan ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Bahkan terhadap pengikut Rasulullah  dari kalangan lemah, bukan hanya penyiksaan tapi sampai pembunuhan sadis. Intimidasi dan ancaman pembunuhan ini yang menyebabkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan para Sahabat hijrah ke Madinah. Pengalaman kezaliman dari penduduk Makkah ini sudah cukup untuk membalas dendam suatu saat nanti.

Apalagi jika ditambah permusuhan di medan perang yang silih berganti antara penduduk Makkah dengan umat Islam Madinah. Adalah sebuah kewajaran jika salah satu pihak jika mampu mengalahkan pihak lain akan menghukumnya dengan keras, bahkan mungkin membunuhnya. Karena perang memang demikian, pilihannya hanya membunuh atau terbunuh. Hukum ini berlaku untuk semua penaklukan bangsa-bangsa di seluruh dunia dari jaman ke jaman.

Babak akhir peperangan antara Makkah dengan Madinah dimenangkan pihak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Tibalah saat penaklukan kota Makkah dan memang benar-benar takluk seluruh penduduk Makkah. Tapi Rasulullah  sebagai komandan tempur, tidak mengeksekusi mati mereka, tapi justru mengeluarkan maklumat pengampunan.

Alasannya bukan karena ikatan fanatisme daerah karena kesamaan tanah air Makkah, tapi karena pertimbangan dakwah: Agar pengampunan ini membuat mereka masuk Islam.

Hebatnya lagi, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  saat mengumumkan pengampunan, mereka masih musyrik, dan tak mensyaratkan pengampunan ini dengan keharusan masuk Islam.

Sebuah pilihan berani dan feeling yang kuat bahwa meski tak disyaratkan masuk Islam, mereka akan masuk Islam karena melihat sisi humanis Islam.

Luar biasa ! Mari kita simak riwayat berikut:

حديث أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال يوم فتح مكة:” يا قريش، ما تقولون وتظنون؟ ” قالوا: نقول ونظن أنك أخٌ وابن عمٍّ حليمٍ رحيمٍ. قال:” وما تقولون وما تظنون؟” قالوا: نقول إنك أخ وابن عم حليم رحيم. قال:” ما تقولون وتظنون؟” قالوا: نقول أخ وابن عم حليم رحيم. قال :” أقول كما قال أخي يوسف:{قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ}” فخرجوا كأنما نشروا من القبور، فدخلوا في الإسلام …. [حديثٌ صحيح: أخرجه ابن زنجويه في الأموال (1 / 201 / 240)، والنسائي في الكبرى (10 / 154 / 11234)، والطحاوي في شرح معاني الآثار (3 / 325 / 5454)]. ( لفظ:” اذهبوا فأنتم الطلقاء ” ليس بثابت ).

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  bersabda pada saat penaklukan kota Makkah:

Wahai kaum Quraisy, apa yang kalian perkirakan dan kalian pikirkan tentang kebijakanku terhadap kalian?

Mereka menjawab:

Kami merasa Anda adalah saudara kandung kami, atau sepupu kami yang mencintai dan menyayangi kami.

Rasulullahصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengulanginya:

Apa yang kalian perkirakan dan kalian pikirkan tentang kebijakanku terhadap kalian?

Mereka menjawab lagi:

Kami merasa Anda adalah saudara kandung kami, atau sepupu kami yang mencintai dan menyayangi kami.

Rasulullahصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  mengulanginya lagi:

Apa yang kalian perkirakan dan kalian pikirkan tentang kebijakanku terhadap kalian?

Mereka menjawab lagi:

Kami merasa Anda adalah saudara kandung kami, atau sepupu kami yang mencintai dan menyayangi kami.

Maka Rasulullahصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  mengumumkan kebijakannya kepada mereka:

Aku memutuskan seperti keputusan saudaraku Yusuf: [Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang” .

Mendengar maklumat ini, mereka berlarian kegirangan seperti manusia yang baru keluar dari kubur, lalu mereka semua menyatakan masuk Islam.

(Hadits shahih riwayat Nasa’i dalam alkubro 10/154 no hadits 11.234)

Demikianlah jihad dalam Islam. Selain harus fi sabilillah, harus pula dilandasi dan dijiwai ruh dakwah yang mendalam. Jihad bukan seperangkat syariat yang menjadi saluran pelampiasan dendam oleh para pelaku jihad kepada musuh yang pernah menzalimi, tapi alat untuk memasukkan misi dakwah ke hati dan pikiran umat manusia.

Jika tanpa membunuh sudah menghasilkan masuknya hidayah ke hati dan pikiran manusia, maka memaksakan diri membunuh sudah masuk kategori nafsu.

Semoga jihad kita bukan jihad yang nafsu. Wallahu a’lam bis shawab.

—————————————–

Katakan tidak pada terorisme dan tetaplah berdakwah bil hikmah, wal mauizhotil hasanah wa jaadilhum billatii hiya ahsan:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS.16:125)

penelusuran dan pendalaman materi lebih lanjut, silahkan buka:

  1. https://www.saaid.net/Doat/abu_sarah/87.htm
  2. https://www.alukah.net/sharia/0/64176/
  3. https://www.alukah.net/culture/0/64467/
  4. Tulisan di atas bersumber  dari https://elhakimi.wordpress.com/2012/09/05/jihad-subordinat-dakwah yang dipublikasikan tanggal oleh elhakimi.
  5. Mengingat pentingnya tulisan tersebut, maka saya posting di sini dengan sedikit penyesuaian, perubahan termasuk  penebalan hurup dan pengubahan paragraf untuk memudahkan pemahaman).
  6. Jihad yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah jihad dalam makna khusus yakni qital (dan ini yang sering disalah fahami), adapun jihad dalam makna bersungguh sungguh, maka tentu harus mewarnai seluruh kehidupan kita.