Muqaddimah Khutbah Jum’ah (Insya Allah sudah pada hapal)

Hadirin sidang Jum’ah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Jika kita merenungkan kilas balik sejarah Rosululloh, beliau mengalami kesedihan demi kesedihan karena ditinggal wafat oleh orang yang mencintai dan sangat dicintainya.

Dua bulan sebelum beliau lahir, ayahnya ‘Abdulloh telah meninggalkannya. Di usia 6 tahun, ibunya pun, Aminah, meninggal dunia. Di usia 8 tahun, Abdul Mutholib kakek beliau meninggal pula, maka beliau selanjutnya diasuh oleh paman beliau Abu Tholib. Sedih karena peristiwa kematian ini, berlanjut setelah beliau menikah, putera-putera beliau wafat di usia masih bayi.

Di Makkah, dari isteri beliau bunda Khodijah rodhiyallohu ‘anha lahir anak pertama, laki laki, dinamai Qosim dan meninggal menjelang usia 2 tahun, kemudian setelah menjadi Nabi lahir putera kedua, juga laki-laki, dinamai ‘Abdulloh, atau disebut juga Ath-Thoyib atau Ath-Thohir dan meninggal dalam waktu yang tidak lama.

Sehingga dari pernikahannya dengan Siti Khadijah, hanya empat puteri beliau: Zainab, Ruqayyah, Umi Kalsum, dan Fatimah Rodhiyallohu ‘anhunna yang tumbuh besar hingga beranak pinak.

Di Madinah, dari isteri isteri beliau yang dinikahinya, hanya Maria Al Qibthiya yang mengandung dan melahirkan seorang anak laki laki, dinamai Ibrohim, dan hanya sempat berumur sampai 18 bulan, kemudian meninggal dunia.

Peristiwa ditinggal wafat anak laki lakinya, baik di Makkah maupun di madinah, membuat beliau  diejek dengan sebutan Al Abthar oleh orang orang jahiliyah.  Dalam salah satu Asbabun nuzul Surat Al Kautsar ini ada dituliskan: Al ‘Ash bin Wa-il as sahmi jika disebutkan nama Rasululloh  ia berkata:

دَعُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ رَجُلٌ أَبْتَرُ لَا عَقِبَ لَهُ، لَوْ هَلَكَ انْقَطَعَ ذِكْرُهُ وَاسْتَرَحْتُمْ مِنْهُ،

“Biarkanlah orang itu, karena ia seorang yang Abtar (tidak memiliki penerus). Jika dia binasa, terputuslah penyebutannya dan kalian bisa terlepas (rehat) dari pada (celotehan) nya”.

Cemoohan dengan istilah Abtar (tidak memiliki penerus) bukan hanya sekali dua kali, tetapi berulang kali, setiap Rosululloh ditinggal wafat anaknya yang laki-laki, karenanya ulama ada yang berpendapat bahwa suratul Kautsar dua kali diturunkan kepada Rosululloh, pertama di Makkah dan ke dua di Madinah, keduanya untuk menghibur Rosululloh  shollallohu ‘alayhi wa sallam.

Hadirin Jama’ah jum’ah yang berbahagia,

Pada kesempatan yang singkat ini, mari kita lihat, bagaimana Rosululloh  yang mengalami kehilangan demi kehilangan ini, kesedihannya mampu terobati dengan surat yang paling pendek dalam Al Quran.

Semoga ini menjadi contoh, bagaimana Al Quran bisa menjadi syifa (obat) bagi segala masalah hati. Pelipur lara bagi Nabi, ternyata tidak panjang, justru sangat singkat, bahkan surat paling pendek dalam Quran.

Mari kita perhatikan metoda Robbani dalam menghibur pilu baginda Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wa sallam bisa hilang dengan singkat?

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”. (QS al-Kautsar: 1).

Ternyata rahasianya adalah jangan fokus pada kesedihan atas apa yang telah hilang, tapi ingatlah pada anugrah yang telah Alloh berikan.

Di ayat ini Alloh tidak mengingatkan pada apa yang telah hilang dari diri Rosululloh, tapi justru Alloh mengingatkan Rosul pada apa yang telah Alloh berikan, berupa anugrah yang teramat sangat melimpah.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka sholatlah engkau (wahai Nabi) ikhlas dan suci hati untuk Robb-mu, dan berqurbanlah!

Jangan fokus pada kesedihan, jangan terus menerus larut dalam duka, sebaik baik penghiburan hati adalah dalam sholat, sebagaimana disabdakan Nabi kita:

وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ

dan dijadikan qurratul ‘ain (penyejuk/penghibur hati) bagiku pada (waktu aku melaksanakan) sholat[1]

Karena itu, ikutilah cara Nabi ketika sedang bersedih: berwudhu, menghadap Qiblat dan sholat, adukanlah semua kesedihan itu kepada Alloh, karena tidak ada sebaik baik penghibur dan penolong kecuali Alloh subhanahu wa ta’ala, yang kita bermunajat penuh kepadaNya di dalam sholat.

Kemudian berqurbanlah,

Ternyata obat mujarab penghilang sedih, bukan larut memikirkan kesedihan, tapi ingat nikmat yang masih ada dari Alloh sangat melimpah, syukuri dengan sholat, dan berkorbanlah (artinya, kalau di hari iedul adha, kita memotong hewan), maka di luar hari iedul adha tolonglah orang lain yang lebih susah dari kita, berkorbanlah untuk mereka yang kurang beruntung, niscaya kesedihan kita berkurang, berganti rasa bahagia.

Demikianlah, hikmah surat paling pendek dalam Quran yang mampu menjadi pengobat duka pelipur lara Rosululloh Rosululloh  shollallohu ‘alayhi wa sallam.


Khutbah ke dua

setelah muqoddimah, berikan kesimpulan dan akhiri dengan do’a.

(demikian semoga bermanfa’at)

[1] HR Ahmad (3/128), an-Nasa-i (7/61) dan al-Hakim (2/174), dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, juga dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani (Fathul Baari 11/345) dan Syaikh al-Albani (Shahiihul jaami’ no. 3124).

Ilustrasi  Photo by Adli Wahid on Unsplash