Silahkan membaca muqoddimah khutbah pertama, hingga wasiat taqwa..

Mari kita mengambil pelajaran dari atsar berikut:

جَاءَ سَائِلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ , فَقَالَ لابْنِهِ : أَعْطِهِ دِينَارًا , فَقَالَ لَهُ ابْنُهُ :

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنْكَ يَا أَبَتَاهُ ,

Ada seseorang (pengemis) meminta kepada Ibnu Umar, maka dia berkata kepada anaknya: “Berikan padanya satu dinar”. Tatkala yang meminta tadi berlalu anaknya berkata ; “semoga Alloh menerima (amalan) darimu wahai ayah”.

فَقَالَ : لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ اللَّهَ تَقَبَّلَ مِنِّي سَجْدَةً وَاحِدَةً , أَوْ صَدَقَةَ دِرْهَمٍ وَاحِدٍ , لَمْ يَكُنْ غَائِبٌ أَحَبَّ إِليَّ مِنَ الْمَوْتِ

Maka Ibnu Umar berkata : “sekiranya aku mengetahui bahwa Alloh menerima satu sujudku, atau sedekahku satu dirham saja, maka hal itu lebih aku cintai daripada kematian”

Mungkin kalau dalam bahasa bebasnya: “Gak apa apa dech mati sekarang juga, asal sudah yakin ada satu amal yang diterima”

kemudian sahabat Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhu melanjutkan perkataannya:

أَتَدْرِي مِمَّنْ يَتَقَبَّلُ اللَّهُ , إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Tahukah kamu, siapakah orang yang diterima (amalannya) itu? Yaitu firman Alloh Ta’ala, “Sesungguhnya Alloh hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)

Dari Fudholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan,

: لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ اللَّهَ تَقَبَّلَ مِنِّي ذرة من الخير أَحَبَّ إِليَّ مِنَ الدنيا وما فيها لأن الله قال

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِين

Seandainya aku mengetahui bahwa Alloh menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja,  karena Alloh Ta’ala berfirman,“Sesungguhnya Alloh hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.

فَإِنَّ اللهَ إِذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عْبْدٍ وَفَّقَهُ لِعَمَل صَالِحٍ بَعْدَهُ,

Karena sesungguhnya Alloh Subhana wa Ta’ala jika menerima amalan seorang hamba maka Alloh Tabaroka wa Ta’ala akan memberikan hidayah untuk beramal sholeh setelahnya.

كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ : ثَوَابُ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا, فَمَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ اتَّبَعَ بِحَسَنَةٍ بَعْدَهَا كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةً عَلَى قَبُوْلِ الحَسَنَةِ الْأُوْلَى.

Sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama : Ganjaran sebuah amal kebaikan adalah amal kebaikan setelahnya. Maka barangsiapa yang beramal dengan sebuah amal kebaikan kemudian mengiringinya dengan amal kebaikan setelahnya merupakan tanda diterimanya amal kebaikan sebelumnya.

كَمَا أَنَّ مَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ اْتَّبَعَهَا بِسَيِّئَةٍ كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةَ رَدِّ الحَسَنَةِ وَ عَدَمِ قَبُوْلِهَا.

Demikian juga barangsiapa yang beramal kebaikan kemudian mengiringinya dengan amal keburukan setelahnya maka hal itu merupakan tanda ditolaknya dan tidak diterimanya amal kebaikan sebelumnya.

penutup khutbah pertama

Muqoddimah khutbah kedua

kesimpulan khutbah pertama, kemudian dilanjutkan dengan doa sebagai penutup khutbah ke dua.