• Twitter
  • LinkedIn

والمؤمنون كلهم أولياء الرحمن،

*”Setiap mukmin adalah wali Allah.*

وأكرمهم عند الله أطوعهم وأتبعهم للقرآن

Dan wali yang paling mulia di sisi Allah adalah wali yang paling taat dan paling mengikuti Al Qur’an.

(Aqidah Thahawiyah).

ketika menafsirkan QS. 10:62-63, Ibn Katsir mengatakan:

يخبر تعالى أن أولياءه هم الذين آمنوا وكانوا يتقون، كما فسرهم ربهم، فكل من كان تقيا كان لله وليا

“Allah mengabarkan bahwa wali-wali-Nya adalah setiap orang yang beriman dan bertaqwa.

Sebagaimana yang Allah jelaskan. Sehingga setiap orang yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah.”

(Tafsir Ibn Katsir, 4/278).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata,

فكل من كان مؤمنًا تقيًا كان لله [تعالى] وليًا

“Setiap yang beriman dan bertakwa, dialah yang menjadi wali Allah.*

(Taisir Al Karimir Rahman, hal. 368)

Ingat bertaqwa itu startnya mulai dari QS.2:1-5: iman pada yang ghaib, tegakkan sholat, Infaq, mengikuti Al Qur’an.

Kadang kita menganggap taqwa itu status yang sulit dicapai, dengan merefer pada ayat: Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa.

Padahal ayat itu berkata tentang yang paling , artinya yang telah mencapai proses tertinggi.

Tapi untuk bertaqwa tidaklah sulit, semua mukminin bisa, walaupun untuk menjadi paling bertaqwa, tentu harus menjalani proses panjang seiring waktu dengan mengalahkan godaan dan tahan cobaan.

Kalau tak bisa jadi yang paling bertaqwa jangan sampai tidak bertaqwa.

Seperti kalimat kalau tidak bisa jadi yang  paling sehat jangan sampai jadi tidak sehat.

Kalau tak bisa jadi yang paling sehat, minimal jangan sakit

Kembali pada kalimat

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata,

فكل من كان مؤمنًا تقيًا كان لله [تعالى] وليًا

Setiap yang beriman dan bertakwa, dialah yang menjadi wali Allah.

Ketika saya, anda, kita mengakui syahadatain dengan segala konsekwensinya (iman), yang ditopang dengan keimanan pada yang ghaib, menegakkan sholat, berinfaq dan mengikuti Quran, maka saat itu kita semua sudah terdaftar sebagai Wali-Alloh, tingkat pemula.

Untuk naik grade, tentu harus mengikuti jalan dan washilah yang dituntunkan Al Quran. Namun yang jelas anda sudah jadi wali, yang diminta meng-upgrade ke-wali-an anda sesuai dengan petunjuk Quran dan Sunnah.

Karena orang bertaqwa adalah wali, dan wali termulia adalah yang paling taqwa.

Maka dari sini kita melihat bahwa Derajat wali itu bertingkat tingkat sebagaimana taqwa pun bertingkat pula.

Jadi wali itu ada level levelnya.

Kalau tak bisa jadi wali yang paling mulia, paling tidak jangan berhenti jadi wali, walaupun wali level pemula.

Tapi pertahankan itu, sebab kalau tidak jadi wali Alloh, akan jadi wali syetan

Sayangnya kita menerawang terlalu jauh jika mendengar kata wali Alloh ini. Fokus kita pada orang khusus yang memiliki banyak kesaktian dan keajaiban keajaiban yang bertentangan dengan kehidupan normal manusia. Kadang yang dianggap waliyulloh itu hanya lah mereka yang memiliki hal aneh dan menakjubkan.

Padahal wali itu bisa kita-kita, orang beriman yang berusaha bertaqwa dengan kriteria sederhana seperti disebutkan dalam QS. Al Baqarah 1-5

Kalau kriteria yang terlalu sempit, banyak yg menganggap waliulloh itu adalah figur  seperti Abdul Qodir Al Jailani,  rohimahulloh, sedangkan imam Syafi’iy dianggap bukan wali.

Padahal semua imam mazhhab juga wali.

Semua penulis kitab yg sampai sekarang muslimin mendapat manfaat darinya seperti syekh An Nawawi Al Bantani pun.

Kita pun wali, cuma bedanya kita waliyulloh yg masih level pemula belum menjadi waliyulloh papan atas, namun begitu peluang naik level selalu terbuka.

Pendaftaran jadi wali itu syahadat tanpa syirik, yg di-ilmu-i dengan benar hingga membebaskan kita dari syirik.

Tangga naik (suluk) mendaki level demi level waliyulloh dimulai dari bertaqwa, yang ukurannya sederhana, seperti dinyatakan Qur’an:

1.  QS. Al Baqarah: 1-5:

– Iman pada yg ghoib,

– Tegakkan Sholat,

– Infaq tiap dapat rizqi

– Imani Qur’an.

2. QS. Ali Imron : 133-136

– Infaq dalam keadaan lapang ataupun sempit

– Menahan Marah

– Memaafkan manusia

– Dawamkan Taubat.

Ketika kita  sholat berjamaah dengan berusaha tertib diperbaiki kualitasnya, saat itu kita punya kesempatan naik level ke-wali-annya.

Waktu banyak rizki, kita ber-Infaq, itu pun peluang untuk menaikkan level ke-wali-an kita.

Waktu sempit rizki, tetap Infaq, juga itu peluang menaikkan level ke-wali-an kita.

Kesel sama anak, sama pasangan hidup, sama orang lain, namun kita berusaha bersabarb tidak narah-marah, juga menaikkan level ke-wali-an kita.

Memaafkan orang, ada orang keliru, salah, kita maafkan, itu juga jadi sebab menaikkan level ke-wali-an kita.

Ditaqdirkan berbuat salah, maka kita pun tetap punya peluang naik level ke-wali-an dengan berhenti dari kesalahan itu dan Taubat…

Kita sudah jadi wali Alloh dengan terus menjalankan Rukun Iman dan Rukun Islam kita, tinggal seberapa kuat tekad kita menaikkan level ke-wali-an itu terserah pada mujahadah (kesungguhan kita) memelihara dan menjaga serta menaikkan level ke-wali-an kita tadi.

Mengapa kita perlu menyadari peluang ke-wali-an ini semenjak dari level pemula?

Mari kita renungkan…

Bagaimana kalau seseorang lupa perannya.. bahaya sekali

Orang lupa kalau dia sebenarnya seorang suami..

Bahaya, ia tak akan bertanggung jawab.

Seperti itu kalau kita tak sadar bahwa diri kita sebenarnya seorang wali.

Kita tak memelihara diri.

Akhirnya yg kita anggap wali yang dianggap punya kesaktian.

Akhirnya jadi sesat, dukun dianggap wali, tukang sihir dianggap wali.

Sedangkan ke-wali-an kita sendiri tak dipelihara.