[MFA2019] Pelajaran Kelembutan Dari Perang Uhud – Ida

IMG-20190604-WA0001
  • Twitter
  • LinkedIn

Perang Uhud terjadi tak lama setelah kaum muslimin mengalami kemenangan besar atas perang Badar. Sebelumnya di perang Badar pasukan Quraisy yang tewas berjumlah banyak dan membuat kekalahan yang sangat memalukan harga diri kaum Quraisy di mata koloni-koloni mereka. Padahal saat itu, jumlah pasukan muslim jauh lebih kecil, hanya sepertiga dari jumlah pasukan Quraisy. Dan pasukan kaum Muslim pun bukan pasukan tentara perang, mereka terdiri dari para warga dengan beragam profesi seperti petani, peternak, pedagang, dll. Hal ini membuat kemarahan Qurays memuncak dan merencanakan perang balas dendam, bahkan sampai melibatkan kaum wanita sebagai “tameng” yang dibawa di medan perang.

Perang Uhud sendiri adalah salah satu perang ikonik yang disebutkan cukup panjang di Surat Ali Imran. Bisa dibilang ikonik, karena dalam perang ini Nabi Muhammad SAW beserta pasukannya mengalami kekalahan yang cukup dahsyat, sampai – sampai Nabi Muhammad SAW sendiri hampir terbunuh, sempat jatuh tak sadarkan diri hingga dikira telah meninggal oleh musuhnya, serta mengalami luka yang sangat parah. Banyak sahabat yang gugur, dan bahkan paman Rasulullah, Hamzah, gugur secara tragis di hadapan beliau.

Singkat cerita, kekalahan perang Uhud sesungguhnya dikarenakan oleh kelalaian pasukan pemanah kaum muslim yang tidak mematuhi perintah Nabi Muhammad SAW untuk tetap di pos mereka di atas bukit. Mereka justru meninggalkan posnya, saat melihat musuh (pasukan Quraisy) terlihat kocar kacir meninggalkan perlengkapan perang mereka. Pasukan pemanah ini kemudian berlarian turun dari bukit, bermaksud mengambil harta rampasan perang dari musuh. Saat itulah, musuh kembali melancarkan serangan. Tanpa ada back up dari pasukan di atas bukit situasi berbalik, pasukan muslim yang menjadi chaos.

Di dalam surat Ali Imran ayat 152 – 176, Qur’an menggambarkan kejadian perang Uhud ini. Allah SWT, bisa saja memerintahkan Nabi Muhammad SAW sebagai layaknya jendral perang, untuk menghukum pasukan pemanah muslim yang sudah melakukan kelalaian sebagai sanksi keras karena telah membahayakan nyawa Nabi Muhammad SAW dan pasukan perang muslim lainnya. Namun, Allah SWT justru menunjukkan kepada kita sifat Pengasih dan Penyayangnya, dengan memberikan ampunan berulang kali disebutkan (antara lain dalam ayat 152 dan 155).

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَلَّوْا۟ مِنكُمْ يَوْمَ ٱلْتَقَى ٱلْجَمْعَانِ إِنَّمَا ٱسْتَزَلَّهُمُ ٱلشَّيْطَـٰنُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا۟ ۖ وَلَقَدْ عَفَا ٱللَّهُ عَنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌۭ

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. [Surat Ali-Imran (3) ayat 155]

Bahkan Allah juga yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk tetap berlaku lembut kepada para sahabat setelah kekalahan perang yang bahkan membahayakan nyawaNya itu. Karena para sahabat sesungguhnya setia kepada Nabi, adalah karena sifat dasar Nabi yang selalu lemah lembut terhadap semua kaum muslim. Tak berhenti sampai disitu, Allah meminta agar beliau mendoakan ampunan untuk pasukannya, dan melibatkan mereka dalam setiap keputusan selanjutnya. Subhanallah! Seperti tertuang dalam surat Ali Imran 159,

فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. [Surat Ali-Imran (3) ayat 159]

Ada pelajaran menarik dari sepenggal ayat ini, ayat perang yang justru mengajarkan kelembutan, terutama bagi saya pribadi yang kebetulan mendapat amanah memimpin sebuah departemen di sebuah perusahaan swasta, dengan beragam karakter orang dalam tim saya. Tak sekali dua, mereka membuat kelalaian yang mengancam kinerja keseluruhan tim. Kadang saya berpikir, apakah karena saya kurang keras kepada mereka ya? SOP sudah jelas tertulis, namun tetap ada saja yang lalai dan tidak sesuai harapan.

Kemudian saat saya mendengar ceramah ini, subhanallah, saya seperti disadarkan, bahwa berlaku lembut yang justru diperintahkan Allah SWT, kepada Nabi, bahkan saat pasukannya melakukan kelalaian fatal. Karena Allah mengatakan, bahwa sesungguhnya karena sifat lemah lembut itulah yang membuat para sahabat nabi tetap setia mendampingi beliau dalam perjuangan mengenalkan Islam kepada seluruh umat.

Mungkin ini juga berarti, bahkan kalau kita harus menyampaikan suatu teguran, tentu dengan cara yang lemah lembut, kemudian justru mendoakan mereka yang melakukan kelalaian ini langsung kepada Allah SWT, dan tetap ‘merangkul’ mereka. Memberitahukan kesalahannya dengan penuh santun dan kelembutan.  Jadi, bukan terus karena lalai atau salah, kemudian seolah kita berhak untuk emosi, memarahi, menyindir-nyindir, menegur mereka secara keras (apalagi sampai memaki), atau bahkan merendahkan dan mengucilkan. Bisa nggak ya? ):

Semoga, kita mampu menjadi pribadi-pribadi santun, lembut, dan bijaksana, dalam kondisi apapun seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Semua akhlak Nabi Muhammad SAW, adalah terjemahan Qur’an, words of Allah Azza Wajalla.

Noor Ida Fitriya (@eda2ida)

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=siMB5SwPDVA&t=137s

https://nakindonesia.wordpress.com/2019/06/04/mfa2019-pelajaran-kelembutan-dari-perang-uhud-ida/