Ibnul Jauzi rahimahullah berkata kepada sahabat-sahabatnya,

إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك

Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Rabb kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.”

Kemudian beliau menangis.

  • Twitter
  • LinkedIn

Nanar mata kita dibuatnya mendengar perkataan Al ‘Alamah abul Jauzi rahimahullah yang begitu menyentuh dan begitu mengharukan itu, sekian banyak orang diantara kita menjadikannya atau membuat hal yang senada sebagai tulisan di status sosial media atau sekedar pajangan di photo profil, namun rasanya itu semua hanya akan menjadi sesuatu yang hampa jika dilakukan tanpa pendalaman makna.

Betapa tidak kita sudah diajak untuk menemui masa depan bersama sebuah keyakinan kemudian diceritakan apa yang akan terjadi dimasa itu dan membuat kita bertanya-tanya bagaimana nasib kita kelak di akhirat, surgakah yang akan kita tempati ? atau neraka yang kepastian siksanya tak dapat kita ingkari? naudzubillah min dzalik.

Tak seorang pun dapat memastikan, karena tak ada jaminan buat kita sedikitpun untuk masuk dalam surgaNya Alloh sekalipun hari ini kita berada dijalan kebenaran, sebab apalah arti jalan kebenaran bagi mereka yang hanya diam dan enggan beranjak, untuk bekerja keras demi masa depannya itu.

Sesekali ini juga mengusik pikiran dan pemahaman kita, seberapa dapatkah kita memberikan syafaat kepada sahabat yang ketika berada di dunia selalu menyertai kita, hilir mudik berjalan bersama-sama, atau hanya sekedar berkumpul untuk bersenda gurau.

Bukan tanpa dasar apa yang disampaikan ibnul Jauzi, sebuah hadits panjang nomor 183 dalam Riwayat Imam Muslim atau nomor 269 versi Syarh Sohih Muslim, memberikan penjelasan dan kejelasan bahwa kelak akan ada orang yang diselamatkan dari neraka karena permohonan sahabatnya yang lebih dahulu masuk surga.

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلَّهِ فِي اسْتِقْصَاءِ الْحَقِّ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ لِلَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِإِخْوَانِهِمْ الَّذِينَ فِي النَّارِ يَقُولُونَ رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ فَيُقَالُ لَهُمْ أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمْ عَلَى النَّارِ فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا قَدْ أَخَذَتْ النَّارُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا مَا بَقِيَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ

… Maka demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah salah seorang dari kalian yang begitu gigih memohon kepada Allah didalam menuntut al haq pada hari kiamat untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka, mereka berseru; wahai rabb kami, mereka selalu berpuasa bersama kami, salat bersama kami, dan berhaji bersama kami.” Maka dikatakan kepada mereka; “keluarkanlah orang-orang yang kalian ketahui.” Maka bentuk-bentuk mereka hitam kelam karena terpanggang api neraka, kemudian mereka mengeluarkan begitu banyak orang yang telah di makan neraka sampai pada pertengahan betisnya dan sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata; “ wahai rabb kami tidak tersisa lagi seseorang pun yang telah engkau perintahkan kepada kami.”…

Namun kemudian yang menjadi pertanyaan Sepercaya diri itukah kita untuk mendapatkan izin memberikan syafaat kepada sohib kita? dan sebesar apakah kita menaruh harap kepada sohib kita agar bisa memohon kepada Allah untuk memberikan syafaatNya? atau boleh jadi ada kerangka berfikir dan sudut pandang yang harus kita ubah saat memahami sebuah keterangan yang kita dapatkan.

Satu ayat yang mungkin dapat menjadi penyeimbang pemahaman kita atas persoalan ini.

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗاۖ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ثُمَّ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ

Katakanlah, “ Syafaat itu hanya milik Allah semuanya. Dia memiliki kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan. ” (QS. Az-Zumar, 44)

Padahal pada hari kiamat semua syafaat hanya milik Alloh, dan pada hari itu hanya orang-orang yang diberikan kemuliaan akan diberikan izin untuk memberikan syafaat, ayat diatas memang ditujukan kepada musyrikin tapi sebagai mukmin kita harus dapat mengambil pelajaran didalamnya.

Tak usah berdebat tentang itu, gak perlu berpolemik lebih dalam tentang syafaat yang akan Alloh berikan melalui permohonan sahabat karena hanya akan menghabiskan waktu dan energi yang ada pada kita mulailah berpikir “Kekinian” dan gak usah menunggu kiamat tiba untuk menolong sahabat kita.

Hari ini, detik ini sahabat dan saudara yang kita sayangi itu tepat berada didepan kita atau setidaknya berada dalam jangkauan ujung jari kita, Mengapa harus menunggu langit terbelah? mengapa harus menanti air laut tumpah? atau menunggu gunung-gunung rebah?

Adalah kewajiban setiap kita mempraktekan syafaat itu ketika ada di dunia, merangkul mereka yang terlupa, memapah mereka yang lemah, dan bersikap legowo dan mengalah untuk hal-hal yang tidak terlalu prinsip agar dapat selalu terjalin kebersamaan, mengapa sentimen pribadi sering kita pertontonkan dan membuat sobat kita beranjak pergi dengan rasa sakit hati, mungkinkah itu gambaran dari sebuah syafaat seorang sahabat?

Jika di dunia saja gereget untuk menolong dan mengingatkan sobat kita dengan cara yang baik tak terlalu kita perhatikan maka bagaimana mungkin kelak kita bisa memberikan dan diberikan syafaat oleh seseorang yang sering kita sebut sahabat ?

Sobat… jika kelak dalam waktu yang cukup panjang kau tak menemukanku dijalan ini, di majelis yang selalu kita hadiri dan di tempat yang sering kita datangi tolong mohonkan kepada Alloh ampunan untukku dan agar mengembalikanku kejalan ini karena aku khawatir kelak dihari kiamat kita akan sibuk dengan urusan kita masing-masing.

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Robb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”

-Sura Al-Hashr, Ayah 10

Allohu a’lam